Berita

3 Juni 2016

42 Mahasiswi Kebidanan Stikes Dilepas Praktek

Mahasiswa Kebidanan StikesSedikitnya 42 mahasiswi prodi D3 Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Banyuwangi diambil sumpahnya, Rabu (1/6) di Auditorium kampus Stikes. Acara yg bertajuk Penyumpahan, Pemasangan Cap Serta Tanda Praktek Klinik Kebidanan tersebut sebagai proses langkah awal para mahasiswi tingkat satu itu dilepas, dan diterjunkan langsung untuk praktek di RSUD Blambangan dan RSUD Genteng selama satu bulan, dilanjut praktek mandiri selama dua minggu.

Ketua Stikes Banyuwangi Dr. H. Soekardjo, S.Kep, MM dalam sambutannya mengatakan, dalam praktek nanti para mahasiswa dituntut untuk mengaplikasikan tigal hal yaitu keterampilan, sikap dan pengetahuan. Ketiga hal tersebut menjadi syarat mutlak sebagai pelayan masyarakat. Mahasiswi perlu banyak belajar pada para pasien. “Tanggungjawab moral kepada klien atau masyarakat harus dilakukan dengan baik. Karakter akhlakul karimah dan wawasan kebangsaan juga harus diterapkan,” ujar Soekardjo.

Pernyataan yang sama juga muncul dari Sekretaris Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Banyuwangi, Hj. Yulianingsih, SST, S.Pd, M.Mkes. Dalam sambutannya wanita tersebut mengatakan, bidan itu profesi yang multifungsi. Selain bisa membantu persalinan, bidan juga bisa menjadi perawat dan menolong orang yg sedang sakit. Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun (5S) juga harus diterapkan ketika sedang menjalankan tugas. “Dengan kita menerapkan 5S, hal tersebut bisa memberi kenyamanan bagi pasien yang akan melakukan persalinan. Dan ndak usah malu untuk bertanya ke para CI (Clinical Instructor-red) ya. Kalau kalian malu nanti kalian sendiri yang menanggung resikonya. Jangan takut kepada para CI, karena mereka memang disiapkan untuk membantu kalian dalam praktek,” ujar Yulianingsih.

Ketua Ikatan Orangtua Mahasiswa (Ikoma) Stikes Banyuwangi, Onggeng Suharto SH menghimbau, agar para orangtua mahasiswa terus mengontrol kegiatan anaknya setiap waktu. Terutama dipantau untuk menjaga kesehatan anaknya. Dan mahasiswa diminta untuk berhemat dan tidak boros dengan uang saku yang telah diberikan orangtua selama praktek. “Kita sebagai orangtua harus selalu memantau anak – anak kita dimanapun dan kapanpun. Ketika pulang dari praktek, sholat dan makan kita wajib mengingatkan agar mereka tetap merasa nyaman meskipun sedang tidak bersama orangtuanya. Dan anak – anak jangan royal ya? Biasakan untuk berhemat karena orangtua kalian itu bekerja keras membanting tulang hanya demi kalian,” tegas Onggeng. (Humas)

Berita Utama

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • 20 − 19 =