Mengunjungi LaboratoriumKeunggulan sarana prasarana dan SDM yang telah dimiliki Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Banyuwangi, ternyata mendapat apresiasi yang luar biasa dari Sekretaris Pelaksana Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Ali Maksum saat melakukan kunjungan dan pembinaan di kampus Stikes Banyuwangi, Selasa (1/3). Dikatakannya, Stikes memiliki potensi besar di Banyuwangi apalagi jika membuka pendidikan S2. Untuk itu kedepannya harus butuh tenaga lulusan S3 yang profesional.

Dalam mediasi bersama para dosen dan karyawan, beliau juga menghimbau untuk bisa melakukan re-akreditasi tanpa harus menunggu waktu lima tahun. Terutama dalam mengurus Jabatan Akademik di Kopertis. Untuk menjadi Asisten Ahli hanya dibutuhkan 150 KUM (Penghitungan angka kredit-red). Prof Ali menjelaskan ada tiga syarat yang harus dilakukan untuk mengajukan jabatan akademik yaitu, memiliki ijazah S2, pengalaman mengajar selama satu tahun dan publikasi jurnal ilmiah. Memiliki ijazah S2 saja jumlah KUM-nya sudah mencapai 50. “Untuk mengajukan Asisten Ahli dan Lektor cukup melalui Kopertis saja, tidak seperti Lektor Kepala dan Guru Besar yang harus diurus sampai Dikti,” ujar Prof Ali.

Langkah berikutnya kata Prof Ali, setelah memiliki Surat Keputusan (SK) Jabatan Akademik, seorang dosen harus mendapatkan Sertifikasi Dosen (Serdos). Untuk mendapatkannya seorang dosen harus lulus ujian Serdos dengan menggunakan portofolio. Setelah lulus Serdos, dosen sudah memiliki hak untuk menerima dana Serdos dan insentif dari negara. Kenapa banyak dosen yang tidak lulus Serdos? Prof Ali menjelaskan, mereka yang mengajukan Serdos terkadang kurang cermat dalam mengisi portofolio dan juga ditemukan kasus plagiarisme (menjiplak karya orang lain-red). “Seorang dosen bukan hanya bertugas datang mengajar dan pulang saja. Namun dosen diartikan sebagai pendidik yang profesional dan ilmuwan. Arti ilmuwan disini adalah peneliti,” ujar Prof Ali.

Prof Ali juga menambahkan, bagi dosen yang sudah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) seharusnya tidak berhenti sampai disitu saja. Artinya dosen yang sudah ber-NIDN juga mempunyai hak dan keabsahan untuk mengajukan apapun karena sudah tercatat sebagai Dosen Nasional. Dosen ber-NIDN berhak untuk mengajukan beasiswa studi lanjut dan mengurus Serdos. Mau mencari beasiswa pendidikan di dalam dan luar negeri pun bisa karena dibiayai oleh negara. “Buat dosen yang Bahasa Inggrisnya bagus bisa mengajukan beasiswa di luar negeri dan ditanggung oleh negara. Kalau dosen saja tidak ada kebangkitan untuk maju, gimana dengan nasib akreditasi institusi? Tolong dilakukan evaluasi betul, titik lemahnya dimana,” tegasnya.

Untuk penelitian Prof Ali menganjurkan untuk setiap dosen wajib melakukan penelitian setahun sekali. Apalagi jika penelitian tersebut mendapatkan dana hibah dari Dirjen Dikti, pasti akan ada motivasi dari para dosen untuk terus melakukan penelitian. Jika tidak mendapatkan dana hibah, institusi bisa memberikan gantinya sebagai uang lelah para dosen. “Penelitian itu dananya sangat besar lho. Sayang kalau kalian tidak melakukan penelitian. Harapan saya jika dosen di usia 30 tahun sudah menyandang pendidikan S2, setidaknya diusia 46 harus sudah menyandang gelar Guru Besar. Kalian sanggup melakukan itu?,” tanya Prof Ali yang dijawab dengan ucapan InsyaAllah oleh para dosen.

Terakhir Prof Ali memberikan masukan jika SDMnya sudah ditingkatkan, maka kedepannya Stikes Banyuwangi tidak akan minder lagi jika harus berkompetisi dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Yang penting mutu dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS) tersebut bagus. “Sayangnya di Indonesia orang masih berkeinginan untuk kuliah di PTN. Padahal kalau kita liat di dunia saat ini ada 10 Perguruan Tinggi (PT) terbaik, tujuh diantaranya adalah PTS. Di luar negeri tidak memandang sekolah negeri ataupun swasta, yang penting mutunya bagus. Contoh Harvard University, Stanford University dan MIT United States. Ketiga PTS tersebut sangat bagus dan masuk peringkat 10 PT terbaik dunia. Tidak menutup kemungkinan Stikes Banyuwangi akan seperti itu,” harap Prof Ali.

Sementara itu Ketua Stikes Banyuwangi, DR. Soekardjo menerima dengan baik masukan dari Prof Ali tersebut. Dikatakannya dalam segi SDM, hingga saat ini pihaknya terus mengkuliahkan para dosen untuk menempuh pendidikan S2 dan S3. Bahkan untuk penelitian, dikatakan Soekardjo, pihaknya tidak berhenti untuk terus mengingatkan para dosen untuk melakukan penelitian. “Kita juga wajibkan para dosen kita untuk melakukan penelitian tiap tahunnya, Prof. Bahkan kita juga ada sanksi untuk dosen yang tidak melakukan penelitian yaitu dicabutnya hak gaji ke-13 dan Tunjangan Hari Raya (THR),” tegas Ketua Pelti Cabang Banyuwangi tersebut diiringi tepuk tangan yang meriah dari Prof Ali. Setelah melakukan mediasi Prof Ali juga diantar untuk mengunjungi area kampus Stikes Banyuwangi mulai dari Laboratorium dan Perpustakaan. Dan sekali lagi Prof Ali memuji Stikes Banyuwangi yang telah memiliki sarana dan prasarana yang lengkap. (Humas)

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *