Berita

5 Januari 2015

Sambut MEA, Stikes Mulai Berlakukan English Speaking Day

Menyambut pasar bebas Asia Tenggara yang lebih dikenal dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada akhir 2015 mendatang, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Banyuwangi akan mulai berlakukan English Speaking Day Campus mulai Januari. Hal itu menjadi alasan yang kuat tentang persaingan di bursa tenaga kerja yang semakin meningkat menjelang pemberlakuan pasar bebas Asean, terutama persaingan tenaga kerja kesehatan seperti dokter, perawat, bidan, dan sebagainya.
Ketua Stikes Banyuwangi DR. H. Soekardjo, S.Kep, MM mengemukakan alasan pentingnya berbahasa Inggris guna menyambut MEA dan era globalisasi, semua perawat dan bidan pun dituntut untuk bisa berbahasa Inggris. Oleh sebab itu Stikes sebagai pencetak tenaga kesehatan di Banyuwangi wajib menyiapkan lulusan yang profesional di bidangnya terutama mampu berbahasa Inggris dengan baik. “Kalau bisa satpam pun nanti juga harus bisa berbahasa Inggris. Karena satpam sebagai pintu gerbang bagi tamu yang berkunjung di Stikes. Meskipun hanya “Yes”, “No” atau “I love U” juga tidak masalah. Yang penting semuanya mau belajar. Saya yakin kalau ini diterapkan di kampus, kita akan terbiasa,” pungkasnya. Bahkan untuk menunjang bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di kampusnya, pihaknya juga akan memfasilitasi kamus saku Bahasa Inggris bagi segenap civitas akademika.
Sekedar informasi, lebih dari satu dekade lalu, para pemimpin Asean sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015 mendatang. Ini dilakukan agar daya saing Asean meningkat serta bisa menyaingi Cina dan India untuk menarik investasi asing. Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan. Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat.
Riset terbaru dari Organisasi Perburuhan Dunia atau ILO menyebutkan pembukaan pasar tenaga kerja mendatangkan manfaat yang besar. Selain dapat menciptakan jutaan lapangan kerja baru, skema ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan 600 juta orang yang hidup di Asia Tenggara. Pada 2015 mendatang, ILO merinci bahwa permintaan tenaga kerja profesional akan naik 41% atau sekitar 14 juta. Sementara permintaan akan tenaga kerja kelas menengah akan naik 22% atau 38 juta, sementara tenaga kerja level rendah meningkat 24% atau 12 juta. Namun laporan ini memprediksi bahwa banyak perusahaan yang akan menemukan pegawainya kurang terampil atau bahkan salah penempatan kerja karena kurangnya pelatihan dan pendidikan profesi. Karena alasan itulah sebaiknya kita mulai menyiapkan pendidikan Bahasa Inggris sejak dini, mengingat Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. (*)

Berita Utama

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • 19 − 12 =