Berita

8 Januari 2015

Stikes Menggelar Workshop ECG

Sebanyak 113 mahasiswa Sarjana Keperawatan Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Banyuwangi belajar praktis membaca Electro Cardio Graphy (ECG). Pelajaran yang diberikan langsung tim Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Malang ini dilaksanakan selama dua hari mulai 6 hingga 7 Januari 2015. Pada hari pertama, para mahasiswa menjalani pre test, teori praktis, pos test/ ujian setelah evaluasi. Dari hasil evaluasi diketahui apakah para mahasiswa/ mahasiswi ini bisa lulus atau tidak.
Ketua Stikes Banyuwangi, DR. H. Soekardjo, S.Kep, MM mengatakan, pelatihan ECG ini sangat penting untuk bisa dipelajari mahasiswa Sarjana Keperawatan Ners. Tujuannya agar kelak ketika berada di dunia praktis keperawatan mereka lebih cakap dalam menangani pasien yang mengalami kelainan pada jantung. Sehingga dengan menggunakan ECG ini diharapkan aktivitas elektrik jantung melalui gelombang irama jantung bisa dipresentasikan melalui alat ini. “Alat ECG ini harus dipelajari dan dipahami benar para mahasiswa Stikes. Di dalam alat ECG ini berkaitan dengan irama dan frekuensi jantung, sehingga ketika ada masalah dengan jantung maka langsung bisa dilakukan penanganan dokter,” kata Soekardjo.
Selain memberikan pelatihan ECG ini , Stikes juga membekali para mahasiswanya dengan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan kegawatdaruratan atau Basic Trauma and Cardiac Life Suport (BTCLS). Pelatihan BTCLS yang telah dilakukan beberapa bulan ini merupakan keterampilan atau skill yang sangat diperlukan dalam meningkatkan pelayanan sehingga dapat mencegah kematian terutama tindakan gawat darurat. Saat ini angka kematian akibat kecelakaan dan keselamatan kerja masih tinggi di Indonesia. “Inilah yang menjadi dasar yang kuat bagi Stikes untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan di bidang kegawatdaruratan,” ungkapnya.
Sementara itu Ketua Tim ECG dari RS Syaiful Anwar Malang, Ners Bambang Sutikno, S.Kep mengatakan, kegiatan ini adalah praktikum tindakan merekam jantung. Sebelum para mahasiswa ini terjun langsung ke dunia kesehatan mereka harus dimasukkan ke dalam laboratorium agar bisa menyesuaikan dengan standar prosedurnya.
Dalam kesempatan itu Tim ECG ingin berbagi ilmu agar kelak bisa melayani masyarakat dimana mahasiswa bertugas. Dalam prosedur non invasi yang tidak melukai pasien, dilakukan secara pelan – pelan sesuai prosedur yang benar. Alat yang digunakan berbeda – beda sebab banyak merk yang bisa digunakan untuk membaca jantung. Dan alat ECG yang dimiliki Stikes ini sudah termasuk alat yang bagus dan bisa merekam dengan cepat dan benar. “Harapan kami dengan praktek ini, para mahasiswa Stikes bisa lebih kompeten dan tanggungjawab kepada pasien,” tegasnya. (*)

Berita Utama

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • nineteen − 16 =