Ketua Stikes Banyuwangi Saat Memberikan Cinderamata kepada Narasumber

Ketua Stikes Banyuwangi Saat Memberikan Cinderamata kepada Narasumber

Sebanyak 700 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Banyuwangi dan puluhan siswa SMA se-Banyuwangi, mengikuti kuliah umum bahaya radikalisme dan terorisme di Auditorium Stikes Banyuwangi, Sabtu (30/4). Kuliah umum nasional yang mengambil tema “Membentengi Generasi Muda dari Pemikiran Radikalisme dan Terorisme” tersebut diisi dengan narasumber dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ustad Abdurahman Ayyub, dan Kapolres Banyuwangi AKBP Bastoni Purnama.
Ketua Stikes Banyuwangi, Dr. H. Soekardjo mengatakan, kuliah umum ini adalah momentum yang sangat berharga dan strategis, terhadap dinamika perkembangan kelompok radikal terorisme yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Sasaran target gerakan ini adalah pemuda khususnya mahasiswa. Melalui kegiatan semacam ini diharapkan civitas akademika bisa menjadi banteng utama dalam mencegah radikalisme dan terorisme, yang kerap menyasar generasi muda tak terkecuali pada lingkungan pendidikan. “Selama ini Stikes sangat aktif memberikan pencegahan terhadap permasalahan aliran – aliran dengan berbagai kegiatan seperti beberapa waktu lalu menggelar wawasan kebangsaan,” kata Soerkardjo.
Kapolres Banyuwangi, AKBP Bastoni Purnama mengatakan, teror ada dua jenis, pertama teror fisik dan teror psikologis. Teror yang paling berbahaya adalah teror psikologis. Oleh sebab itu perguruan tinggi harus lebih intensif membentengi para mahasiswa dari propaganda paham – paham yang bertentangan dengan Pancasila. “Ideologi Pancasila adalah senjata ampuh untuk melindungi bangsa dari ancaman propaganda radikalisme dan terorisme. Karena itu jangan pernah lelah menanamkan nilai – nilai yang terkandung dalam ideologi Pancasila, yaitu agama, sosial, persatuan, kerakyatan dan keadilan kepada masyarakat terutama generasi muda,” ujar AKBP Bastoni Purnama.
Ustad Abdurahman Ayyub mengatakan, gerakan radikalisme masih berkembang di Indonesia. Di sejumlah propinsi gerakan tersebut masih subur. “Namun untuk mengetahui seseorang terlibat dalam jaringan gerakan radikal atau tidak, tidak bisa dilihat dari jenggot dan celana cingkrang,” ujar mantan teroris yang kini telah tobat itu. Abdurahman mengaku keluar dari Jamaah Islamiyah karena menilai ajaran yang didoktrinkan sudah melenceng dari Islam yang sebenarnya. “Ciri – ciri gerakan radikal itu senang mengkafirkan, menthogutkan dan juga membunuh sesama muslim. Ini yang harus diwaspadai di Indonesia,” tegasnya. Sementara itu, dalam kuliah umum tersebut, Ketua Stikes Banyuwangi juga memberikan sebuah cinderamata kepada kedua narasumber sebagai ucapan terima kasih. (Humas)


[top]

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *