Blog

Jamu Sehat, Bebas Berbahan Kimia Obat
Serba Serbi

Jamu Sehat, Bebas Berbahan Kimia Obat

Oleh : Stephanie Devi Artemisia*

Stephanie Devi Artemesia, M.Si., Apt. Dosen D3 Farmasi STIKES Banyuwangi
Dosen D3 Farmasi, Stephanie Devi Artemesia, M.Si., Apt.

Bagi masyarakat Indonesia, mendengar kata jamu tentunya sudah tidak asing lagi. Jamu sudah digunakan oleh masyarakat Indonesia sejak 1300 M dan merupakan warisan nenek moyang yang ramuannya digunakan secara turun temurun.

Jamu digunakan untuk menjaga kesehatan, kebugaran, kecantikan, membantu pemulihan kesehatan dan pencegahan penyakit.

Meskipun jamu pernah mengalami masa pasang surut kejayaan akibat boomingnya obat sintentik, namun sebagian masyarakat masih tetap mengunakan jamu untuk menjaga kesehatannya.

Masyarakat beranggapan jamu merupakan produk yang relatif aman digunakan karena berasal dari bahan alam dalam hal ini tumbuhan. Hal itu yang menyebabkan jamu di Indonesia saat ini tetap eksis dan berkembang pesat, yang dulu awalnya adalah jamu godogan, jamu gendong, jamu serbuk, jamu cair hingga saat ini menjadi herbal terstandar dan fitofarmaka. Dimana herbal terstandar dan fitofarmaka sudah melalui uji preklinik dan klinik.

Baca juga:

Banyuwangi juga merupakan salah satu daerah yang masyarakatnya masih memanfaatkan jamu sebagai sarana untuk menjaga kesehatannya. Hal ini dapat dilihat dari masih eksisnya toko jamu dan pedagang jamu keliling di Banyuwangi.

Bahkan Pemerintah Kota Banyuwangi juga mendukung tetap eksisnya minum jamu, melalui program “Gerakan Jumat Minum Jamu” mulai beberapa tahun yang lalu. Jamu akan menjadi media yang menyehatkan apabila digunakan secara tepat dan benar.

Penggunaan jamu secara umum diminum langsung tetapi adapula yang ditambahkan dengan bahan lain, seperti anggur jamu, kuning telur, madu, ataupun serbuk jamu yang diproduksi oleh industri farmasi. Tetapi, jamu tidak boleh mengandung hewan atau tumbuhan yang dilindungi, narkotika dan psikotropika, serta bahan kimia obat menurut peraturan perundangan yang berlaku.

Jamu yang baik adalah jamu yang memenuhi persyaratan mutu, aman digunakan dan memiliki manfaat bagi yang mengkonsumsi.

Jamu yang bagaimanakah yang dimaksud?

Tentunya, jamu yang segar adalah jamu yang baru dibuat dari ramuan berbagai macam tanaman dan ditujukan untuk segera dikonsumsi. Kalaupun jamu tersebut akan disimpan, dapat disimpan paling lama 2-3 hari setelah proses pembuatan. Jamu harus diolah dengan baik agar layak dikonsumsi, yaitu bebas dari cemaran bahan fisika, kimia, dan mikroorganisme. Selain itu pada saat akan diminum, rasa, bau dan warna tidak berubah dari kondisi awal pembuatan.

Jamu juga harus aman dikonsumsi yaitu bebas dari bahan kimia obat. Bebas dari bahan kimia obat merupakan persyaratan mutlak dari jamu. Mengapa sebagai syarat mutlak? Karena terkait dengan konsep dasar penggunaan jamu adalah tidak ditujukan untuk pengobatan yang cepat.

Penggunaan jamu lebih mengarah pada pencegahan penyakit dan mengobati penyakit yang relatif tidak membutuhkan penyembuhan yang segera. Hal itu dikarenakan komponen jamu berasal dari senyawa metabolit dari tanaman yang tidak dimurnikan, selain itu pelarut yang digunakan untuk jamu juga cukup banyak, sehingga senyawa metabolit yang tersari kadarnya sedikit.

Jadi amankah kita mengkonsumsi jamu setiap hari? Jawabnya tentu aman, karena sejak jaman dahulu jamu dikonsumsi secara rutin oleh nenek moyang kita. Lalu apakah yang menyebabkan jamu menjadi tidak aman digunakan? Jamu menjadi tidak aman digunakan karena adanya Bahan Kimia Obat (BKO) yang dicampurkan ke dalam jamu.

Penambahan BKO dalam jamu sangat berkaitan erat dengan efek segera yang ingin dirasakan oleh masyarakat sesaat setelah minum jamu, seperti hilangnya rasa capek setelah minum jamu pegel linu atau menjadi kuat dan perkasa bagi laki-laki setelah minum jamu kuat.

BKO yang umumnya ditambahkan dalam jamu antara lain Parasetamol, Fenilbutason, Deksametason, Sildenafil Sitrat, Tadalafil Sitrat dan Antalgin, Obat-obat tersebut sering ditambahkan pada jamu karena masyarakat sering mengkonsumsi jamu pegel linu, jamu rematik dan jamu kuat.

Jamu pegel linu dan rematik umumnya ditambahkan Parasetamol, Fenilbutason, Deksametason, dan Antalgin, dimana obat-obat tersebut memberikan efek pereda rasa nyeri dan mengurangi peradangan.

Seperti kita ketahui bahwa Parasetamol umunya digunakan untuk menurunkan demam dan nyeri. Parasetamol sebenarnya senyawa yang relatif aman digunakan, karena Parasetamol termasuk dalam obat bebas dan mudah didapatkan di toko obat ataupun apotek.

Akan tetapi Parasetamol memberikan efek samping menimbulkan kerusakan hati saat digunakan secara rutin. Fenilbutason juga suatu senyawa yang berfungsi sebagai penghilang rasa nyeri.

Saat ini Fenilbutason, penggunaannya sudah sangat terbatas, bahkan di Amerika sudah tidak lagi digunakan, karena memiliki efek samping menurunkan produksi sel darah putih, selain itu juga menyebabkan perdarahan lambung yang mungkin tidak disadari oleh konsumen karena tertutup efek antinyeri dari fenilbutason itu sendiri. Antalgin juga merupakan obat yang berfungsi untuk meredakan nyeri, yang apabila digunakan dalam jangka panjang akan menimbulkan efek samping seperti Fenibutason.

Deksametason merupakan suatu obat yang sangat popular di masyarakat karena digunakan untuk mengatasi berbagai macam peradangan pada rematik, asma, alergi, sindroma nefrotik, lupus, dan rematoid artritis. Deksametason juga dikenal sebagai obat gemuk untuk anak-anak, karena penggunaan deksametason dapat menyebabkan wajah tampak bulat.

Efek samping dari penggunaan Deksametason dalam jangka waktu yang lama sangat banyak, yaitu:

  • Meningkatkan resiko diabetes,
  • Pengeroposan tulang,
  • Menghambat pertumbuhan pada anak,
  • Menurunkan daya tahan tubuh,
  • Hipertensi, dan
  • Gangguan lambung.

Sildenafil Sitrat dan Taladafil Sitrat merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi gangguan ereksi pada pria, sehingga obat ini paling sering ditambahkan pada jamu kuat. Adapun efek samping yang dapat ditimbulkan bila mengkonsumsi obat tersebut dalam jang waktu lama dan tidak sesuai dengan ajuran dokter adalah buta warna, sakit kepala, pusing, hidung tersumbat dan sakit pada kandung kemih.

Terkait dengan hal di atas, diharapkan masyarakat dapat bijak dalam hal mengkonsumsi jamu, memahami bahaya dari jamu yang mengandung BKO dan efek samping yang akan ditimbulkan. Stikes Banyuwangi, sebagai salah kampus kesehatan yang memiliki program studi D3 Farmasi, siap turut berpartisipasi dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat tentang bahaya BKO dalam jamu.

*) Dosen Farmasi Stikes Banyuwangi

Artikel ini juga telah dimuat di Koran Jawa Pos, Radar Banyuwangi rubrik Opini edisi Kamis, 23 Juni 2021

Itulah sekilas manfaat jamu alami tanpa bahan kimia untuk kesehatan, jangan lupa follow akun Intagram @stikesbanyuwangi karena kami juga membagikan informasi menarik lainnya yang sangat berguna dan sayang untuk dilewatkan.

Leave your thought here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Counter