Blog

“Menjadi Dosen : Bekerja Seperti untuk Tuhan, Bukan untuk Manusia”
Serba Serbi

“Menjadi Dosen : Bekerja Seperti untuk Tuhan, Bukan untuk Manusia”

Bagi sebagian orang, akan menjadi dosen merupakan hal yang tidak pernah terfikirkan. Namun ada pula, yang sejak lama memiliki cita-cita ingin menjadi seorang pengajar ataupun dosen. Tentunya akan nampak sangat berbeda, upaya persiapan yang akan dilakukan oleh orang yang akhirnya harus menjadi dosen dengan yang ingin menjadi dosen. Ternyata, untuk menjadi seorang pengajar tidak hanya tentang bisa menjelaskan saja, namun perlu memiliki kemampuan lain, termasuk tentang academic branding tentang seorang dosen.

Fransisca Retno Asih, SST., M.Keb
Fransisca

Academic branding itu sendiri bisa didapatkan deengan memgikuti seminar online atau offline. Selain itu juga perlu memahami dan membaca berbagai peraturan atau pedoman yang berkaitan dengan profesi dosen. Dari sekian persiapan, ada poin penting yang perlu juga untuk ditanamkan dalam diri, yakni ketika menjadi seorang dosen,  “bekerjalah selayaknya kita melakukan untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”.

Mutu, mindmaps, refleksi, dan motivasi

Ketika telah memasuki dunia mengajar, dosen akan bertemu dengan beragam peristiwa baru yang akan memberikan banyak pengalaman dan kesempatan. Melalui hal tersebut, bisa memberikan pemahaman tentang bagaimana menjadi seorang dosen yang baik dan benar.

Beberapa diantaranya seperti tentang mutu pelayanan pembelajaran yang diberikan harus berkualitas dan mengikuti panduan yang terbaru. Mencari metode pengajaran yang terkini juga penting dilakukan bagi seorang dosen, akan mahasiswa bisa menerima materi dengan baik sehingga capaian pembelajaran dapat diraih.

Hal lainnya yakni tentang kedisiplinan waktu, layaknya Tuhan yang menginginkan kita untuk selalu tepat waktu ketika ia memanggil kita, maka dosen pun juga harus disiplin sebagai contoh sikap untuk mahasiswa. Apabila sika

p dosennya menunjukkan baik, akan menjadi motivasi bagi mahasiwa selama proses pembelajaran. Tidak hanya menyampaikan materi, tugas dosen adalah juga membantu membentuk karakter mahasiswa untuk bisa membangun critical thingking, serta memberikan arahan melalui motivasi-motivasi penyemangat yang diselipkan selama proses pengajaran.

Menghasilkan banyak karya

            Tugas seorang dosen, tidak akan pernah keluar dari indikator Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni Pendidikan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Penelitian. Belum lagi aturan-aturan pusat yang mengharuskan dosen untuk bisa lebih berinovasi menghasilkan sebuah karya.

Beberapa luaran yang bisa dihasilkan oleh dosen tidak melulu tentang menciptakan sebuah temuan, namun bisa dalam bentuk tulisan yang dipublikasikan pada platform jurnal ternama, bisa juga sebuah karya berupa buku dari hasil pengajaran, pengabdian ataupun penelitian yang pernah dilakukan.

Adanya karya yang dihasilkan oleh seorang dosen, akan menjadi nilai tambah tersendiri yang melekat. Jalinan relasi semakin melebar, bahkan bisa menjadi motivator untuk rekan-rekan dosen lainnya. Sehingga, dengan menjadi dosen tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri melainkan juga memberikan manfaat bagi orang lain, terlebih jika kita melakukan aktifitasnya ikhlas hanya untuk mencari rahmat Tuhan.

Baca Juga: Dosen dan Karyawan Stikes Banyuwangi Adakan Outbound Guna Meningkatkan Kualitas Kerja

 Multitasking

            Seorang dosen, memanglah tidak jauh dikenal dengan seseorang yang berkutat dengan mengajar. Hal lain yang perlu dipahami untuk menjadi dosen adalah, pentingnya untuk keluar dari zona nyaman dan berani menjadi orang yang multitasking. Multitasking dalam hal ini yakni mengembangkan kemampuan selain mengajar.

Setelah berhasil meghasilkan sebuah karya atau inovasi yang dapat dirasakan manfaatnya oleh banyak orang, dosen memiliki peluang juga untuk menjadi penilai atau penelaah dari karya-karya yang dihasilkan oleh dosen lainnya, atau bisa saja disebut editor dan reviewer. Bahkan peluang ini bisa didapatkan tidak hanya di lingkup perguran tinggi setempat, melainkan hingga nasional serta internasional.

Contoh multitasking lainnya yang bisa diasah dan menjadi manfaat bagi seorang dosen itu sendiri adalah mencoba berani untuk menjadi seorang narasumber atau moderator pada sebuah acara seminar, workshop, pelatihan atau sejenisnya. Selain menjadi nilai plus untuk diri sendiri sebagai bentuk self branding, melalui metode mengasah diri ini akan memberikan dampak positif lainnya seperti menjalin dan menambah relasi.

Apabila seorang dosen tersebut memiliki beragam nilai lebih pada dirinya, tak akan menutup kemungkinan bahwa itu bisa mengantarkan dosen tersebut mendapatkan beragam penghargaan atau reward. Bisa menjadi dosen terfavorit dikalangan mahasiswa, bisa menjadi dosen yang berdedikasi bagi instansi tempat bekerja, serta memotivasi para dosen lain untuk ikut berkembang dan berbenah.

Ibarat pepatah, “tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna”, namun kita bisa terus berupaya untuk “melakukan yang terbaik seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Marilah terus mengembangkan diri dengan segala hal yang ada di sekitar, mencoba berbagai kesempatan yang ada “pokoknya dicoba dulu”, terus melakukan kebiasaan baik seperti membaca, mengajar tepat waktu minim reschedule, mengajar dengan metode yang menyenangkan bagi mahasiswa, melakukan kolaborasi penelitian dan pengabdian masyarakat dengan pihak eksternal, dan mewujudkan harapan yang masih tersimpan dan direncanakan.

*Karya : Fransisca Retno Asih, SST., M.Keb
*Dosen S1 Kebidanan

Counter