Blog

Dian Roshanti, S.Sos : “Pentingnya Kerjasama, Mengantar Stikes Banyuwangi Menuju Kancah Internasional”
Lebih Dekat

Dian Roshanti, S.Sos : “Pentingnya Kerjasama, Mengantar Stikes Banyuwangi Menuju Kancah Internasional”

Dian Roshanti, S.Sos Humas Stikes Banyuwangi
Humas Stikes Banyuwangi, Dian Roshanti, S.Sos

Lincah, ramah, dan ceria itulah yang tergambar dari perempuan bernama Dian Roshanti, S.Sos, seorang Public Relations atau humas di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Banyuwangi.

Selain humas, beliau juga menjadi tenaga pengajar (Dosen) mata kuliah ilmu komunikasi di Stikes Banyuwangi. Sejak kapan ia bergabung dengan Stikes? Serta bagaimana pesan dan kesan selama menjadi bagian dari keluarga besar Stikes? Belum lama ini, tim majalah SMART melakukan wawancara kepada yang bersangkutan, berikut ungkapannya:

Sejak kapan bergabung di Stikes Banyuwangi?

          Saya bergabung di Stikes Banyuwangi sejak tahun 2011, sembilan tahun yang lalu. Sebelumnya, saya bekerja dibidang keuangan syariah dan pemasaran. Saya pindah dari kantor yang lama, bermula dari sebuah infromasi bahwa di kampus kesehatan ini sedang membutuhkan seorang humas. Saya berani mengambil tawaran tersebut, karena saya merasa pekerjaan humas sangat relevan dan sejalur dengan pendidikan saya, yaitu komunikasi peminatan Public Relations.

Seberapa jauh mengenal Stikes Banyuwangi?

          Saya melihat Stikes Banyuwangi itu luar biasa. Awal saya disinipun, kampus ini sudah luar biasa. Hingga sembilan tahun menjadi bagian didalamnya, Stikes terus berbenah diri mengembangkan kualitas. Tidak hanya tenaga sumberdaya manusia, tetapi juga dengan sarana prasarana, begitupun dengan kualitas mutu pendidikannya sendiri. Semua dapat dilihat dari prestasi-prestasi yang diraih hingga kancah internasional, output mahasiswa yang langsung siap kerja, dan sebagainya.

Baca Juga: Erik Toga: “Prestasi Stikes, adalah Hasil Eksistensi dari Proses yang Telah Dilalui”

Bagaimana peran atau tugas kerja humas di Stikes Banyuwangi itu sendiri?

Di bagian humas, saya tidak hanya berkutat dalam menjalin, menjaga, dan mempertahankan sebuah kerjasama dengan instansi lain yang bermitra dengan Stikes. Tetapi saya juga berperan dalam menjaga dan mempertahankan citra instansi agar tetap positif di masyarakat, melakukan marketing public relation, dan sebagai jembatan penghubung antara Stikes Banyuwangi dengan pihak eksternal maupun internal. Misalnya, saya harus bisa menyalurkan kebijakan pimpinan ke bawahan, ataupun menyampaikan aspirasi bawahan kepada atasan. Selain itu, saya juga bertugas menjalin hubungan baik dengan media. Karena peran media sangat penting untuk menggiring informasi di masyarakat.

Terkait marketing public relation, itu dimaksudkan sebagai upaya strategi pemasaran jasa atau produk yang kita punya agar memiliki citra yang baik dikalangan masyarakat. Humas juga menangani terkait promosi kampus. Namun dengan capaian yang tidak hanya berfokus pada pencairan mahasiswa saja, melainkan sampai dengan memberikan fasilitas infromasi lowongan kerja bagi alumni melalui instansi-instansi yang telah bekerja sama dengan Stikes baik di dalam maupun luar negeri.

Momen apa yang paling berkesan selama menjadi humas?

          Bagi saya, semua yang saya jalankan disini merupakan hal baru. Banyak peristiwa yang membuat saya terus belajar. Menurut saya bekerja itu juga ladang untuk belajar. Setiap permasalahan yang ada di institusi menjadi ladang saya untuk belajar, saya harus berfikir keras bagaimana cara untuk menyelesaikan. Kemampuan problem solving sangat di perlukan disini.  Karena, kembali lagi kepada tugas saya bahwa humas merupakan sebuah jembatan penghubung jika terjadi kesalahpahaman atau isu yang belum tentu kebenarannya.

Di kampus Stikes ini saya menemukan air mata, pengalaman luar biasa, ketenangan batin, bahkan juga bahagia. Seluruh komponen yang ada di stikes ini adalah keluarga saya. Saya sangat mencintai pekerjaan ini. Menjalin hubungan dengan banyak orang itu menjadi point plus buat saya, karena mempermudah apa yang saya jalani.

Pengalaman berharga yang saya peroleh dari pekerjaan ini ialah ketika saya dipercaya oleh bapak pimpinan untuk menjalin relasi dengan orang-orang dari berbagai kalangan. Mulai dari strata terbawah hingga strata tertinggi. Itu yang membuat saya merasa memiliki pengalaman luar biasa, akhirnya saya bisa bertemu dengan banyak pejabat, orang-orang penting.

Bahkan seringkali pekerjaan ini menjadi tantangan tersendiri untuk saya. Contohnya ketika ingin melakukan sebuah kerjasama dengan perusahaan besar. Saya harus bisa nekat dan berani untuk mencoba masuk. “Kira-kira bisa tidak ya saya menembus kerjasama dengan perusahaan ini?”

          Jika tentang air mata yang pernah saya dapatkan di tempat kerja, yakni ketika saya menemukan ada citra instansi yang tidak baik dimasyarakat. Hal itu sangat mempengaruhi mood saya dalam bekerja. Terutama jika ada yang berbicara ketidakbenaran tentang kampus ini. Saya juga pernah menangis berurusan dengan wartawan. Namun pekerjaan saya adalah pelayanan, saya tidak boleh terlihat lemah, saya tidak boleh terlihat takut, meski terkadang berlawanan dengan hati.

Baca Juga: Ir. H. Suhartoyo, SH., M.Si : “sudah saatnya Stikes menjadi Institut,”

Melihat tugas sehari-hari, ibu bukanlah tipikal sosok yang harus duduk tenang di kantor, lalu bagaimana cara ibu dapat membagi waktu dengan keluarga?

          Humas memang terkadang sering keluar kota hanya untuk mengurus sebuah kerjasama, tapi bagi saya semua itu masih bisa dikomunikasikan dengan baik oleh suami atau keluarga. Jadwal keluar kota pun tidak setiap hari, dan hal tersebut masih dalam jam kerja meski terkadang pulangnya saat malam hari.

          Berbicara soal membagi waktu dengan keluarga, saya selalu punya waktu untuk tetap melaksanakan kewajiban saya sebagai seorang istri ataupun ibu. Saya memanfaatkan setiap waktu saya dirumah untuk terus berinteraksi dengan keluarga, misalkan berdongeng sebelum anak tidur. Dan menurut saya poin penting dengan keluarga adalah bukan tentang kuantitas seberapa sering kita bertemu, tapi kualitas dari setiap pertemuan dengan keluarga, anak dan suami.

Dian Roshanti, bersama suami rayakan ulang tahun putrinya yang ke 6 tahun
Dian Roshanti, bersama suami rayakan ulang tahun putrinya yang ke 6 tahun belum lama ini

Menurut ibu, mengapa menjalin kerjasama itu dinilai penting bagi sebuah instansi terutama Stikes Banyuwangi?       

          Tentu itu sangat penting, kerjasama dan bersinergi dengan banyak bidang yang hasilnya berimbas baik kepada instansi itu sendiri selama hubungannya selalu terjalin dengan baik. Selain itu, kerjasama merupakan salah satu langkah untuk pengembangan. Bukan hanya soal mengembangkan sarana prasarana dan kelembagaan saja, melainkan juga tentang pengembangan finansial institusi.

          Stikes Banyuwangi merupakan sebuah kampus swasta, yang dananya perlu kita cari sendiri. Dengan adanya kerjasama dengan bidang lain seperti perbankan, BUMN, dan juga pengembangan iklim bisnis di bidang lain menjadi cara kita untuk dapat mencari jalan lain dari segi pemasukan keuangan selain dari biaya SPP mahasiswa.

Jika kita mengikuti perkembangan Stikes, kampus ini telah banyak menjalin kerjasama baik dalam negeri maupun luar negeri. Tentunya itu adalah peran dari seorang humas. Bagaimana tanggapan ibu tentang hal itu?

          Saya memang harus berperan didalamnya, karena itu merupakan tugas yang saya emban. Sejauh ini Stikes Banyuwangi telah menjalin kerjasama dengan banyak instansi mulai dari bidang satu sektor hingga lintas sektor, dalam negeri maupun luar negeri. Tujuanya untuk merealisasikan visi dan misi Stikes itu sendiri. Saya hanya sebagai penghubung atau jembatan agar bagaimana caranya dengan kerjasama ini dapat membantu kampus untuk mencapai targetnya. Misalkan tentang lahan praktik mahasiswa yang memadai, kebutuhan jenjang pendidikan mahasiswa atau dosen yang lebih tinggi, dan sebagainya.

Baca Juga: dr. Juwana : “Terima Kasih, Saya Sudah Menjadi Bagian dari Stikes Banyuwangi”

Terkait kerjasama luar negeri yang baru saja terjalin, yakni dengan Management and Science University Malaysia. Bentuk realisasinya sangat memukau bahkan mengantarkan Stikes go internasional. Kedepan, adakah program kerjasama yang akan segera terrealisasikan?

          Menurut saya, MSU ini ialah kerjasama yang luar biasa. Dari kedua pihak merealisasikan 60% klausal kerjasama yang disepakati. Kita diberi kesempatan untuk ke kampus MSU, melakukan study banding, pihak MSU juga hadir ke Stikes memberikan kuliah umum.

          Kedepan ini masih ada program-program yang akan segera terealisasi, yaitu adanya kelas internasional. Target ini merupakan satu dari sekian harapan kami, meskipun Stikes adalah kampus swasta yang berada di ujung timur Pulau Jawa, tetapi secara kualitas tidak kalah dengan kampus besar lainnya yang membuka kelas internasional.

Lalu apa harapan untuk Stikes Banyuwangi ditahun ini?

          Harapan saya Stikes Banyuwangi terus bergerak maju, menciptakan inovasi baru dan bagus yang membuat kita berkembang. Melebarkan sayap kita pada kerjasama dengan luar negeri, berdasar pada visi dan misi yang berdaya saing global tersebut. Saya percaya Stikes bisa go hingga kancah internasional. Pengembangan klinik yang telah di rintis juga dapat menjadi warna tersendiri yang ada di Stikes.

          Saya juga berharap Stikes terus menambah keberagaman, menambah program studi, serta menambah iklim bisnis dengan adanya PT (Perseroan Terbatas) yang telah dimiliki. Serta yang paling penting ialah kebermanfaatan Stikes Banyuwangi untuk kalangan masyarakat.

Adakah Pesan yang ingin disampaikan untuk Stikes Banyuwangi?

          Pesannya, terimakasih telah memberi saya kesempatan dan kepercayaan dalam mengabdikan diri menjadi humas. Semoga tetap menjadi kampus pendidikan kesehatan yang terus melakukan amal baik. Program-programnya memiliki nilai manfaat untuk banyak orang, sehingga itu juga menjadi ladang pahala untuk kita.

Leave your thought here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Counter