Blog

Potensi Banyuwangi Dalam Pencegahan Stunting
Serba Serbi

Potensi Banyuwangi Dalam Pencegahan Stunting

Oleh: Mulya Agustina*

Mulya Agustina, S.Gz., M.Si Dosen Prodi S1 Gizi STIKES Banyuwangi
Dosen Prodi S1 Gizi, Mulya Agustina, S.Gz., M.Si

Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Periode usia sekolah merupakan bagian dari tahapan dalam siklus hidup manusia yang sangat menentukan kualitas SDM. Salah satu ciri SDM berkualitas berkaitan dengan kualitas kesehatan yang mencakup tentang masalah gizi. Masalah gizi seseorang adalah refleksi konsumsi zat gizi yang berdampak pada status gizi, jika asupan gizi kurang dalam makanan dapat menyebabkan kekurangan gizi dan begitu sebaliknya.

Keadaan gizi akan ditentukan oleh faktor internal dan eksternal yaitu ketersediaan bahan pangan pada suatu daerah, lingkungan tempat tinggal, dan pelayanan kesehatan yang tersedia di daerah tempat tinggal. Sedangkan faktor internal, antara lain cukup tidaknya pangan seseorang dan kemampuan tubuh menggunakan pangan tersebut.

Gizi sangat dibutuhkan dalam proses perkembangan, sehingga asupan gizi anak harus terpenuhi setiap harinya agar dapat berkembang dengan baik secara fisiologis. Pemberian gizi yang kurang baik terutama terhadap anak-anak, akan menurunkan potensi sumber daya pembangunan masyarakat. Salah satu indikator untuk menilai tinggi rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia adalah adalah Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Indeks/ HDI).

Tiga faktor utama penentu HDI yaitu, pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Ketiga faktor tersebut erat kaitannya dengan status gizi masyarakat. Karena, anak yang memperoleh makanan yang kuat sejak dari kandungan (status gizi baik) akan tumbuh dan berkembang dengan optimal sesuai usianya dan mempunyai umur harapan hidup yang baik (kesehatan). Pencegahan stunting salah satunya yakni intervensi gizi spesifik melalui pemanfaatan sumber pangan lokal.

Potensi ketersediaan pangan lokal Indonesia sangat melimpah. Keragaman pangan lokal olahan akan sangat banyak bila dikembangkan dengan baik serta dapat memiliki nilai ekonomi dan strategis ketahanan pangan yang dapat diandalkan. Pangan lokal termasuk dalam sumberdaya lokal erat kaitannya dengan ketahanan pangan.

Kemandirian pangan dapat tercapai dari ketahanan pangan yang dikembangkan berdasarkan kekuatan sumberdaya lokal. Kemandirian pangan akan membantu untuk terbentuknya induvidu yang sehat, aktif, dan berdaya saing sebagaimana indikator ketahanan pangan. Hal ini juga akan melahirkan sistem pangan dengan pondasi yang kokoh, sehingga ketahanan pangan perlu didukung dengan pondasi kemandirian pangan.

Merujuk pada farm tourism di Spain, tourist farm di Poland, dan agritourism yang mampu mensejahterakan masyarakat, karakteristiknya tidak jauh berbeda dengan petani di lingkungan pedesaan di Banyuwangi. Kondisi ini dapat menjadi peluang Banyuwangi maju dari potensi pertanian dan pariwisatanya sangat besar. Banyuwangi merupakan salah satu lumbung padi nasional, yakni di Kecamatan Muncar, Jenis beras merek dewi sri dan beragam merek lain produksi Banyuwangi menyuplai ke hampir semua kota di Indonesia terutama Jakarta, Surabaya, dan Bali.

Selain beras, Kabupaten Banyuwangi menghasilkan beragam hasil ikan seperti ikan pindang dan sarden yang sudah dipasarkan secara luas. Kecamatan Muncar adalah daerah yang produksi ikannya cukup melimpah dan menyuplai ikan untuk wilayah nasional dan internasional melalui perusahaan-perusahaan ikan. Selain produksi ikan yang melimpah, Kabupaten Banyuwangi juga menghasilkan beragam jenis sayur, antara lain kacang panjang, kluwih, bayam, sawen, terong, kangkung, genjer, nangka muda, daun singkong, ubi, buah-buahan: jeruk, buah naga, semangka, melon, rambutan, durian, manggis, cabe, kelapa. Hasil pertanian ini memiliki pasar tujuan Bali, Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Mataram.

Ikan merupakan salah satu jenis protein heme yang memiliki tingkat penyerapan besi yang baik. Kandungan protein dalam ikan mencapai 18% dan terdiri dari asam amino esensial. Berdasarkan Daftar Bahan Makanan Penukar (DBMP) Indonesia, satu porsi ikan segar (50 g) mengandung 10 gram protein. Ikan memiliki peran penting sebagai sumber energy dan protein. Protein dari ikan merupakan komponen zat gizi yang penting bagi negara yang memiliki jumlah penduduk tinggi di mana kecukupan proteinnya berada pada level rendah/kurang. Konsumsi ikan selama masa kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan sangat penting serta dapat membantu menurunkan resiko kematian akibat serangan jantung.

Produk perikanan sebagai sumber mikronutrien seperti vitamin dan mineral terutama pada spesies ikan berukuran kecil yang dapat dikonsumsi keseluruhan dari bagian kepala hingga tulang, yang dapat menjadi sumber mineral penting yang sangat baik seperti yodium, selenium, seng, besi, kalsium, fosfor dan kalium, dan juga vitamin seperti vitamin A dan vitamin D, dan beberapa vitamin dari kelompok B. Pada hasil beberapa penelitian, konsumsi ikan pada ibu hamil dan menyusui baik untuk pentumbuhan dan perkembangan janin, bayi menyusui, dan masa kanak-kanaknya.

Asupan protein yang cukup selama golden period (bayi hingga usia 2 tahun) menjadi hal yang penting dalam pencegahan stunting. Hasil study menunjukkan bahwa balita dengan asupan protein inadekuat memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalamin stunting dibandingkan dengan balita dengan asupan protein adekuat dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan. Salah satu sumber protein yang banyak tersedia dengan harga cukup terjangkau yaitu ikan.

Penelitian di Rowosari, Semarang menunjukkan bahwa konsumsi ikan secara signifikan berkorelasi dengan kejadian stunting. Absorpsi protein ikan lebih tinggi dibandingkan daging sapi, dan ayam. Hal tersebut dikarenakan daging ikan mempunyai serat protein lebih pendek daripada serat protein daging sapi atau daging ayam. Ikan juga mengandung asam lemak omega-3 yang memiliki keunggulan khusus dibanding pangan hewani lain, karena komposisi asam lemak esensialnya tidak jenuh ganda.

Konsumsi lemak yang perlu diperhatikan untuk anak usia sekolah adalah konsumsi asam lemak esensial seperti asam linolenat dan asam linoleat. Asam lemak esensial ini dibutuhkan untuk pertumbuhan dan fungsi normal semua jaringan, termasuk untuk perkembangan sel otak yang optimal. Ikan juga kaya akan kandungan vitamin dan mineral. Jika dalam menu sehari-hari kita menghidangkan ikan, maka kita memberikan sumbangan gizi yang tinggi pada jaringan tubuh kita.

Dari beragam sumber pangan yang dimiliki oleh Kabupaten Banyuwangi, dapat dinilai bahwa Banyuwangi memiliki potensi besar dalam membantu menyediakan menu pangan yang bergizi. Harapannya, para pelaku kesehatan, masyarakat dan pemerintah daerah dapat saling besinergi untuk mengembangkan pangan lokal tersebut untuk mensejaterahkan masyarakat Banyuwangi, khususnya dalam hal mencegah terjadinya stunting.

*) Dosen S1 Gizi Stikes Banyuwangi

Artikel ini juga telah dimuat di Koran Jawa Pos, Radar Banyuwangi Rubrik Opini edisi 30 Juni 2021

Nah, itulah informasi mengenai potensi Banyuwangi dalam pencegahan stanting, semoga artikel ini memberikan manfaat dan jangan lupa follow Instagram @stikesbanyuwangi kerena akan ada berbagai pembahasan menarik lainnya seputar kesehatan yang sayang untuk dilewatkan.

Jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan sampaikan di kolom komentar di bawah ini atau bisa juga melaui akun Instagram di atas ya.

Leave your thought here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Counter